Off-Side

Menurut Rule of The Game FIFA, off-side didefinisikan sebagai ‘A player is in an offside position if he is closer to the opposing goal than both the ball and two opponents (in general terms this means the goalkeeper and one defender)’. Artinya kurang lebih ‘pemain dinyatakan dalam posisi off-side apabila dia berada lebih dekat dengan gawang lawan dibandingkan bola dan dua pemain lawan. Peraturan off-side mulai dikenal sekitar akhir abad ke- 18. Sejumlah sekolah umum di Inggris yang pertama kali menerapkan peraturan tersebut, yang diadopsi dari permainan rugbi, olah raga yang lebih dulu populer.

Pada awal perkembangannya, sepak bola memang dimainkan mirip seperti rugbi. Bola harus digiring melewati pemain-pemain lawan. Sangat diharamkan bola dioper jauh langsung ke depan ke arah gawang lawan. Para pemain diharuskan bergerak atau bermain di ‘belakang’ bola. Tak lama kemudian mereka sadar, agar permainan lebih mengalir, umpan ke depan amat dibutuhkan. Sejak umpan ke depan diperbolehkan, embrio peraturan off-side mulai diterapkan.

Pada tahun 1847, The Etton College, sebuah sekolah di Inggris, menyatakan off-side dengan istilah sneaking(pengecut/licik). Lalu pada tahun 1848 Universitas Cambridge mulai mengembangkan peraturan off-side, yang lantas bertahun-tahun kemudian menjadi dasar peraturan Football Association yang dibentuk pada tahun 1863.

Mengenai off-side itu sendiri, seperti yang ditulis pelbagai macam situs online, berasal dari istilah militer. Bukan hal aneh lagi, sepak bola atau rugbi kerap memang mengambil istilah dari ranah militer, misalnya back line(garis belakang), striker (penyerang), defense (pertahanan). Pun demikian dengan off-side. Konon istilah ini pemendekan dari frase ‘off the strength of his side’. Frase ini ditujukan untuk seorang serdadu yang kehilangan privilese atau hak-hak khusus karena sedang tidak dalam keadaan bertugas. Dia menjadi orang awam, penduduk biasa, dan baru mendapatkan lagi hak-haknya (misalnya gaji dan tunjangan dari pemerintah) bila dia ditempatkan kembali ke kesatuannya.

Demikian pula dengan pemain yang dinyatakan off-side. Dia tak berhak menerima bola karena pada saat itu dirinya bukanlah bagian dari permainan. Bila pemain bersangkutan menyadarinya sehingga bertindak pasif, permainan tetap dilanjutkan. Bila tidak, si pemain dianggap melakukan pelanggaran.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: