BUDIDAYA Nannochloropsis sp. PADA SKALA LABORATORIUM

BUDIDAYA Nannochloropsis sp. PADA SKALA LABORATORIUM

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pakan alami adalah sumber pakan yang penting dalam usaha pembenihan ikan, udang, kepiting, dan kerang. Pakan alami merupakan pakan yang sudah tersedia di alam, untuk pakan buatan adalah pakan yang dibuat dari beberapa macam bahan yang kemudian diolah menjadi bentuk khusus sesuai dengan yang dikehendaki. Pemberian pakan yang berkualitas akan memperkecil persentase kematian larva. Dalam budidaya terutama dalam usaha pembenihan, pakan merupakan salah satu faktor pembatas. Secara umum pakan terdiri dari pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami terbagi atas fitoplankton, zooplankton dan benthos. Salah satu fitoplankton yang banyak digunakan sebagai pakan utama dalam pembenihan ikan air laut adalah Nannochloropsischloropsis sp. karena memiliki syarat yang dibutuhkan sebagai pakan larva yaitu mudah dicerna, berukuran kecil, nutrisi tinggi mudah dibudidayakan dan cepat berkembang biak (Isnansetyo, 1995).
Hal yang dapat dilakukan untuk memenuhi tersedianya pakan adalah memproduksi pakan alami, karena pakan alami mudah didapatkan dan tersedia dalam jumlah yang banyak sehingga dapat menunjang kelangsungan hidup larva selama budidaya ikan, mempunyai nilai nutrisi yang tinggi, mudah dibudidayakan, memiliki ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut larva, memiliki pergerakan yang mampu memberikan rangsangan bagi ikan untuk mangsanya serta memiliki kemampuan berkembang biak dengan cepat dalam waktu yang relatif singkat dengan biaya pembudidayaan yang relatif murah. Upaya untuk memperoleh persyaratan dan memenuhi pakan alami yang baik adalah dengan melakukan kultur fitoplankton misalnya adalah fitoplankton genus Nannochloropsis.

B. Tujuan
1. Mengetahui karakteristik pertumbuhan Nannochloropsis sp. pada skala laboratorium.
2. Mengetahui medium yang paling baik untuk pertumbuhan Nannochloropsis sp. untuk budidaya skala laboratorium

C. Manfaat
Pengamatan yang dilakukan nantinya bermanfaat untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dari dua medium yang diberikan yaitu f/2 dan medium walne terhadap pertumbuhan Nannochloropsis sp.

II. METODOLOGI
A. Alat dan Bahan
1) Alat
• Erlemeyer
• Pengaduk
• Botol film
• Mikroskop
• Gelas objek
• Cover glass
• Pipet
• Aerator
• Gelas Ukur
• Toples
• Tissue
• Ember
• Refraktometer
• Kertas pH
2) Bahan
• Air laut
• Air tawar
• Tetraselmis sp.
• Medium f/2 (NaNO3, NaH2PO4, Trace Elemen @ 1 ml dan 0,5 Vitamin)
• Medium walne ( macroelemen, trace elemen @ 1 ml dan 0,1 ml Vitamin)
• Aquades
• Formalin

B. Cara Kerja
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Melakukan pengenceran menggunakan air laut dan air tawar untuk mendapatkan salinitas yang diinginkan.
3. Membuat medium f/2 dan medium walne dengan bahan yang sudah ditentukan.
4. Membagi campuran antara medium dengan mikroalga yang sudah dibuat kedalam erlenmeyer (dua kali ulangan)
5. Menempatkan di dalam ruang kultur dan diberi aerator
6. Melakukan pengamatan salinitas, pH, dan kepadatan mikroalga setiap tiga jam sekali selama empat hari.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan

Medium f/2
Hari Kepadatan
03.00 06.00 09.00 12.00 15.00 18.00 21.00 24.00
Kamis – – – – 10.000 42.500 66.250 75.000
Jum’at 87.500 107.500 132.500 135.000 172.500 187.500 200.000 62.500
Sabtu 47.500 25.000 50.000 60.000 117.500 115.000 95.000 110.000
Minggu 77.500 92.500 170.000 310.000 247.500 – – –

Hari pH
03.00 06.00 09.00 12.00 15.00 18.00 21.00 24.00
Kamis – – – – 7 – 8 –
Jum’at 8 – 9 – 8 – 8 –
Sabtu 9 – 8 – 9 – 9 –
Minggu 8 – 8 – 7 – – –

Medium Walne
Hari Kepadatan
03.00 06.00 09.00 12.00 15.00 18.00 21.00 24.00
Kamis – – – – 10.000 55.000 142.500 100.000
Jum’at 42.500 75.000 127.500 155.000 77.500 130.000 20.000 42.500
Sabtu 55.000 75.000 92.500 77.500 100.000 125.000 207.500 175.000
Minggu 182.500 350.000 340.000 375.000 447.500 – – –

Hari pH
03.00 06.00 09.00 12.00 15.00 18.00 21.00 24.00
Kamis – – – – 7 – 7 –
Jum’at 7 – 7 – 7 – 7 –
Sabtu 7 – 7 – 7 – 7 –
Minggu 6 – 7 – 7 – – –

Kecepatan Tumbuh dan Waktu Generasi
Medium No LnNo Nt LnNt µ Ln2 G
Walne 55.000 10,915088 142.500 11,867097 0,31733627 0,69313 2,1843
f/2 42.500 10,65726 66.250 11,10119 0,147977 0,693147 4,68415

µ : lnt – ln0 G : ln2
t µ
Keterangan:
N0 : Kepadatan Log Awal
Nt : Kepadatan Log Akhir
ln0 : ln Kepadatan Awal
Lnt : ln kepdatan Akhir
G : Waktu Generasi
µ : Kecepatan Tumbuh

B. PEMBAHASAN
Nannochloropsis sp. adalah alga bersel satu yang termasuk ke dalam kelas Eustigmatophyceae, yang biasa di kenal sebagai marine chlorella. Nannochloropsis sp. dapat dimanfaatkan untuk mengadsorpsi ion-ion logam. Kemampuan adsorpsinya cukup tinggi karena di dalam alga Nannochloropsis sp. terdapat gugus fungsi amina, amida, dan karboksilat yang dapat berikatan dengan ion logam. Nannochloropsis sp. mempunyai peranan penting dalam suatu kegiatan pembenihan karena kandungan nutrisinya yang tinggi dan memiliki kemampuan memproduksi bahan-bahan yang sangat penting seperti pigmen (zeaxanthin dan astaxanthin) dan Poly Unsaturated Fatty Acid (PUFA). Pembenihan membutuhkan Nannochloropsis sp. dengan kuantitas serta kualitas yang baik, dalam hal ini adalah kepadatan sel serta kandungan protein yang tinggi ( Wisnu, 2006 ).
Nannochloropsis sp. mempunyai peranan penting dalam suatu kegiatan pembenihan karena kandungan nutrisinya yang tinggi dan memiliki kemampuan memproduksi bahan-bahan yang sangat penting seperti pigmen (zeaxanthin dan astaxanthin) dan Poly Unsaturated Fatty Acid (PUFA). Namun pemanfaatan secara langsung dalam bentuk biomassa (sel mati), sangat rentan terhadap degradasi oleh mikroorganisme, sehingga perlu dilakukan immobilisasi(Anonim, 2008).
Menurut Anonim (2006), klasifikasi dari Nannochloropsis sp. adalah sebagai berikut :
 Kingdom : Chromista
 Filum : Heterokonta
 Kelas : Eustigmatophyceae
 Sub-kelas : Bacillariophycideae
 Genus : Nannochloropsis
 Species : Nannochloropsis sp.

Mikroalga yang banyak ditemukan di laut ini memiliki ukuran sebesar 1-2 µm. Memiliki karakteristik tubuh yang berwarna hijau, ber sel tunggal dan bukan termasuk golongan mikroalga yang beracun.

Parameter yang berpengaruh pada pertumbuhan dari microalga Nannochloropsis sp. adalah:
1. Ph

pH akan mempengaruhi toksisitas semua senyawa kimia. Variasi pH dapat mempengaruhi metabolisme dan pertumbuhan fitoplankton dalam beberapa hal, antara lain mengubah keseimbangan dari karbon organic, mengubah ketersediaan nutrient, dan dapat mempengaruhi fisiologis sel. Secara umum kisaran pH yang optimum pada kultur Nannochloropsis sp. Antara 7 – 9 (Effendi, 2003).

2. Salinitas
Kisaran salinitas yang berubah-ubah dapat mempengaruhi dan menghambat pertumbuhan dari mikroalga. Beberapa mikroalga dapat tumbuh dalam kisaran salinitas yang tinggi tetapi ada juga mikroalga yang dapat tumbuh dalam kisaran salinitas yang rendah. Pengaturan salinitas pada medium yang diperkaya dapat dilakukan dengan pengenceran dengan menggunakan air tawar. Kisaran salinitas yang dimiliki oleh Nannochloropsis sp. antara 32 – 36 ppt, tetapi salinitas paling optimum untk pertumbuhan Nannochloropsis sp. adalah 33- 35 ppt (Effendi, 2003).
3. Suhu
Suhu optimal dalam kultur mikroalga Nannochloropsis sp. secara umum antara 20-24 ˚C. Suhu dalam kultur diatur sedemikian rupa bergantung pada medium yang digunakan. Suhu diatas dari 36 ˚C akan menyebabkan kematian pada jenis fitoplankton tertentu, sedangkan apabila suhu kurang dari 16˚C akan menyebabkan kecepatan dari pertumbuhan fitoplanton menurun.
4. Cahaya
Cahaya merupakan sumber energi dalam proses fotosintetis yang berguna untuk pembentukan senyawa karbon organic. Kebutuhan akan cahaya bervariasi tergantung kedalaman kultur dan kepadatannya. Intensitas cahaya yang terlalu tinggi dapat menyebabkan fotoinbihisi dan pemanasan. Intensitas cahaya 1000 lux cocok untuk kultur dalam Erlenmeyer, sedangkan intensitas 5000-10000 lux untuk volume yang lebih besar (Coutteau, 1996).

5. Nutrien
Mikroalga mendapatkan nutrien dari air laut yang sudah mengandung nutrien yang cukup lengkap. Namun pertumbuhan mikroalga dengan kultur dapat mencapai optimum dengan mencampurkan air laut dengan nutrien yang tidak terkandung dalam air laut tersebut. Nutrien tersebut dibagi menjadi makronutrien dan mikronutrien, makronutrien meliputi nitrat dan fosfat. Makronutrien merupakan pupuk dasar yang mempengaruhi pertumbuhan mikroalga. Mikronutrien organik merupakan kombinasi dari beberapa vitamin yang berbeda-beda. Vitamin tersebut antara lain B12, B1 dan Biotin. Mikronurien tersebut digunakan mikroalga untuk berfotosintesis (Taw, 1990).

6. Aerasi
Aerasi dalam kultur mikroalga diguanakan untuk proses pengadukan medium kultur. Pengadukan sangat penting dilakukan yang bertujuan untuk mencegah dari pengendapan sel, nutrien dapat tersebar sehingga mikroalga dalam kultur mendapatkan nutrien yang sama, mencegah sratifikasi suhu, dan meningkatkan pertukaran gas dari udara ke medium. (Taw, 1990)
Pada praktikum acara Kultur Mikroalga Nannochloropsis sp. skala Laboratorium dilaksanakan dengan dua perlakuan, dimana perlakuan pertama pada medium Walne dan perlakuan kedua dengan medium Guillard f/2. Kandungan yang terdapat pada medium Walne adalah macroelement, trace element dan vitamin. Untuk medium Guillard f/2 terdapat kandungan NaNO3, NaH2PO4, H2O, Trace element dan vitamin. Macronutrien adalah nutrien yang dibutuhkan oleh Nannochloropsis sp. dalam jumlah yang besar, sedangkan Trace element adalah element yang dibutuhkan oleh Nannochloropsis sp. dalam jumlah yang sangat kecil, namun element ini sangat sering digunakan (merupakan elemen yang penting bagi pertumbuhan Nannochloropsis sp.)
Keberhasilan suatu pertumbuhan dalam kultur mikroalga dapat dilihat dari kecepatan tumbuh dan waktu generasi. Kecepatan tumbuh (µ) adalah Pertambahan sel dalam waktu tertentu .untuk pertumbuhan mikroalga, secara umum dapat dibagi menjadi lima fase meliputi fase lag, fase eksponensial, fase penurunan kecepatan pertumbuhan, fase stasioner, dan fase kematian. Pada fase lag, pertambahan densitas populasi hanya sedikit bahkan cenderung tidak ada karena sel melakukan adaptasi secara fisiologis sehingga metabolisme untuk pertumbuhan lamban. Pada fase eksponensial pertambahan kepadatan sel (N) dalam waktu (t) dengan kecepatan tumbuh (µ) sesuai dengan rumus funsi eksponensial. Pada fase penurunan kecepatan tumbuh pembelahan sel mulai melambat karena kondisi fisik dan kimia kultur mulai membatasi pertumbuhan. Pada fase stasioner faktor pembatas dan kecepatan pertumbuhan sama karena jumlah sel yang membelah dan yang mati seimbang. Pada fase kematian kualitas fisik dan kimia kultur berada pada titik dimana sel tidak mampu lagi mengalami pembelahan. Hal tersebut dapat dilihat dari generasi (G) adalah Waktu yang diperlukan suatu mikroalga untuk membelah sel dari satu sel menjadi beberapa sel dalam pertumbuhan. Semakin tinggi kecepatan tumbuh mikroalga maka waktu generasi dari mikroalga tersebut juga semakin cepat (Sumarsih, 2007).
.
Kualitas air pada kedua medium tersebut juga mempengaruhi pertumbuhan dari Nannochloropsis sp. Pada praktikum kultur mikroalga skala Laboratorium ini kualitas air yang diukur selama tiga hari adalah derajat keasaman (pH), pengukuran pH dilakukan selama 6 jam sekali. Untuk medium Walne kisaran pH selama pemeliharaan (3 hari) yaitu berkisar antara 6-7, sedangkan untuk medium Guillard f/2 pH berkisar antara 7-9.
Pengamatan jumlah Nannochloropsis sp. pada skala laboratorium ini dilakukan dengan jangka waktu tiga jam sekali selama empat hari. Dari hasil analisis maka didapatkan :
• Untuk medium Walne pertambahan sel Nannochloropsis sp. selama satu jam (Kecepatan tumbuh/µ) yaitu sebanyak 0,32 sel, dan waktu yang diperlukan oleh Nannochloropsis sp. untuk membelah sel dari satu sel dua sel sempurna (Waktu generasi/G) adalah selama 2,18 jam atau selama 131 menit/generasi.
• Untuk medium Guillard f/2 pertambahan sel Nannochloropsis sp. selama satu jam (Kecepatan tumbuh/µ) yaitu sebanyak 0,15 sel, dan waktu yang diperlukan oleh Nannochloropsis sp. untuk membelah sel dari satu sel menjadi beberapa sel (Waktu ganerasi/G) adalah selama 4,68 jam atau selama 281 menit/generasi.
Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa adanya perbedaan pertumbuhan pada kedua medium tersebut. Dari kedua medium tersebut medium yang lebih baik untuk pertumbuhan sel Nannochloropsis sp. adalah medium Walne, hal ini dikarenakan kecepatan tumbuh Nannochloropsis sp. pada medium Walne lebih besar dibandingkan dengan kecepatan tumbuh pada medium Guillard f/2. Hal ini juga didukung bahwa waktu generasi Nannochloropsis sp. pada medium Walne lebih cepat dibandingkan pada medium Guillard f/2.
Lebih baiknya pertumbuhan pada medium Walne (dilihat dari kecepatan tumbuh dan waktu generasi) dikarenakan medium Walne merupakan medium yang cocok untuk pertumbuhan Nannochloropsis dimana medium Walne mengandung element-element yang lengkap yang dibutuhkan oleh Nannochloropsis sp. Menurut Senny (2008) adapun kandungan dari medium:
Untuk medium Walne, kandungan mediumnya terdiri dari:
• NaH2PO4
• H3BO3
• Na2EDTA
• NaNO3
• FeCl3
• MnCl2
• Trace element (ZnCl2, CaCl2, (NH4)6, Mo7O24, CuSO4)
• Vitamin : B12, B1
Guillard f/2 yaitu:
• NaH2PO4
• NaNO3
• ZnSO4
• CuSO4
• CaCl2
• MnCl2
• NaMoO4
• Trace element (NaZEDTA, FeCl3)
• dan Vitamin : B12, B1, Biotin
Berdasarkan analisis anova, kecepatan tumbuh pada kedua medium tidak berbeda nyata atau dengan kata lain kecepatan tumbuh kedua medium tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Hal tersebut juga terlihat untuk waktu generasi, kedua medium tersebut tidak berbeda nyata atau waktu generasi dari kedua medium tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang sigifikan.

IV. KESIMPULAN
1. Untuk medium Guillard f/2 pertambahan sel Nannochloropsis sp. selama satu jam (Kecepatan tumbuh/µ) yaitu sebanyak 0,15 sel, dan waktu yang diperlukan oleh Nannochloropsis sp. untuk membelah sel dari satu sel menjadi beberapa sel (Waktu ganerasi/G) adalah selama 4,68 jam atau selama 281 menit/generasi.
2. Untuk medium Walne pertambahan sel Nannochloropsis sp. selama satu jam (Kecepatan tumbuh/µ) yaitu sebanyak 0,32 sel, dan waktu yang diperlukan oleh Nannochloropsis sp. untuk membelah sel dari satu sel dua sel sempurna (Waktu generasi/G) adalah selama 2,18 jam atau selama 131 menit/generasi.
3. Berdasarkan analisis annova tidak terdapat beda nyata antara medium walne dan medium Guillard f/2. Namun dilihat dari kecepatan tumbuh dan waktu generasi medium yang lebih baik untuk pertumbuhan sel Nannochloropsis sp. adalah medium Walne.

Advertisements

Komik-komik yang saya suka

Pertama-tama saya nulis daftar dulu yang saya suka

1. Ruler of The Land

2. One Piece

3. Detektif Kindaichi

4. Demon King

5. Shoot

6. Slam Dunk

7. Cross Game

8. H2

9. Crows

10. Love n college

11. Golden boy

untuk sementara ini yang saya ingat….haha

Penyebab Gagalnya Diet

Tidak semua orang berhasil menurunkan berat badannya usai melakukan diet. Banyak kejadian, berat badan kembali naik setelah berhenti program diet (diet yoyo). Ternyata ini penyebabnya.

Para ahli menemukan orang yang mengalamidiet yoyo disebabkan oleh karakterteristik dari tingkat protein di dalam darahnya.

Peneliti menemukan perempuan yang berahsil menjaga berat badan dengan baik cenderung memiliki kadar enzim yang besar. Hal ini menunjukkan kadar dari enzim tersebut mempengaruhi seseorang dalam menjaga berat badannya.

Kemungkinan protein yang terkandung dalam enzim tersebut dapat mempengaruhi hormon-hormon yang berfungsi mengontrol bagaimana tubuh merasakan perut yang kenyang dan membuat tubuh menyimpan lemak ekstra dan air.

Kadar enzim yang besar itu ternyata tidak ditemukan pada perempuan yang mengalami diet yoyo.

“Diet yoyo bisa mengganggu psikologis seseorang karena ia akan merasa gagal dalam menurunkan berat badannya dan bisa mengurangi kepercayaan dirinya,” ujar Dr Susan Jebb dari Medical Research Council’s nutrition centre di Cambridge, seperti dikutip dari Dailymail, Senin (28/2/2011).

Dr Jebb mengingatkan pentingnya mempelajari penyebab seseorang gagal dalam berdiet. Dengan begitu bisa ditentukan strategi apa yang perlu dilakukan orang untuk menjaga berat badannya dalam jangka panjang.

Penemuan ini nantinya akan memberikan petunjuk bagi seseorang untuk melakukan tes darah sederhana sebelum melakukan diet. Hal ini untuk memberinya bantuan dalam menjaga bentuk tubuh rampingnya.

Studi ini dilakukan oleh peneliti dari 8 negara di Eropa yang menganalisis darah dari 96 partisipan yang berhasil menurunkan berat badannya. Sekitar setengah dari partisipan berhasil menjaga berat badannya, sedangkan setengah lainnya justru bertambah berat badannya setelah berhenti diet.

Peneliti melakukan pengujian darah terhadap 34 protein yang menunjukkan kadar dari suatu zat yang disebut dengan angiotensin-converting enzyme. Zat ini sangat terkait dengan perempuan yang memiliki diet yoyo atau perempuan dengan berat badan tidak stabil.

sumber:detik.com

Mandi Untuk Relaksasi

Mandi Untuk Relaksasi

oleh : Muhammad Arif Bondan N

 

Banyak orang enggan beranjak dari tempat tidur ke kamar mandi karena alasan air yang terlalu dingin. Padahal air dingin tidak hanyamenyegarkan kulit tetapi juga meningkatkan sistem kerja otot sehingga lebih fleksibel dan siap bergerak semangat.

sumber:http://sambok.wordpress.com

Bahaya Es Teh Bagi Ginjal

Bahaya Es Teh Bagi Ginjal

oleh :Muhammad Arif Bondan N

 

Di balik kenikmatanyya, es teh menyimpan potensimerugikan bagi kesehatan manusia. Seperti dikutip Laman Times of India, es teh mengandung konsentrasi tinggi oksalat , salah satu bahan kunci pembentukan batu ginjal. Pria, wanita posmenopause dengan tingkat estrogen rendah dan wanita yang pernah menjalani operasi  pengangkatan indung telur paling rentan terpapar dampak buruk es teh. Oleh karena itu disarankan mengganti konsumsi minuman itu dengan air putih atau mencampurnya dengan lemon. Lemon kaya dengan kandungan citrates yang dapat menghambat pertumbuhan batu ginjal

 

sumber:http://sambok.wordpress.com

Secangkir Teh Bikin Otak Tetap Bugar Meski Tubuh Kelelahan

Kemampuan berpikir biasanya berkurang ketika tubuh sedang merasa letih. Namun dengan secangkir teh, otak dijamin tetap bisa diajak berpikir keras meski tubuh dalam kondisi lelah dan tidak punya tenaga untuk beraktivitas secara fisik.

Dibandingkan kopi yang hanya mengandalkan kafein sebagai pendongkrak kebugaran, teh punya kandungan lain yakni senyawa L-theanin. Senyawa ini merupakan asam amino yang mampu meningkatkan kewaspadaan dan menjamin otak selalu terjaga dalam kondisi seletih apapun.

Cukup dengan menyeruput secangkir teh, efek L-theanin sudah bisa dirasakan selama 20 hingga 70 menit berikutnya. Konsentrasi tetap terjaga, pikiran tetap bisa diandalkan meski secara fisik tubuh sudah tidak sanggup mengerjakan aktivitas berat.

Para peneliti dari Belanda telah membuktikan hal ini melalui sebuah penelitian yang dipublikasikan baru-baru ini dalam jurnalNutritional Neuroscience. Dalam penelitian tersebut, para ahli memakai berbagai jenis teh termasuk teh hijau dan melibatkan 44 relawan berusia kurang dari 40 tahun.

Kombinasi L-theanin dan kafein dalam secangkir teh terbukti mampu meningkatkan akurasi berhitung para relawan, serta mengurangi rasa kantuk. Efek serupa tidak dijumpai pada kelompok lain yang hanya diberi plasebo berupa minuman lain yang tidak mengandung kedua senyawa tersebut.

“Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa kombinasi L-theanin dan kafein bsia menjaga kemampuan kognitif atau kemampuan otak untuk berpikir,” tulis para peneliti dalam publikasinya seperti dikutip dariDailymail, Minggu (27/2/2011).

Para peneliti juga mengatakan, manfaat teh tidak akan berkurang dengan penambahan sedikit susu untuk variasi penyajian. Susu tidak menghambat penyerapan flavonoid dan antioksidan maupun senyawa lain yang bermanfaat dalam secangkir teh.

Selain menjaga fungsi otak saat kelelahan, manfaat lain dari minum teh juga sudah sering dibuktikan dalam berbagai penelitian. Di antaranya mampu meningkatkan kepadatan tulang serta mengurangi risiko kanker, serangan jantung dan parkinson.

sumber: detik.com

Pembenihan Ikan Manvis (Pterophyllum scalare)

Secara alami Manvis hidup di perairan yang tenang dan banyak tanamannya. Jenis ikan ini cocok sekali dipelihara di dalam akuarium bersama jenis ikan yang gerakannya lamban. Manvis sangat sayang terhadap anaknya dan bila ada gangguan dari luar manvis melindungi anaknya dengan jalan menyimpan di dalam mulutnya. Sifat seperti ini kurang menguntungkan pada saat pemijahan karena tempatnya harus benar-benar aman. Dalam usaha pembenihan biasanya pembudidaya menggunakan kolam yang terbuat dari semen.

Untuk memijahkan Manvis, induk yang digunakan harus yang benar-benar sudah dewasa dan matang gonad agar didapatkan anakan yang bagus dan sehat. Manvis siap memijah setelah berumur 9 – 12 bulan. Setiap kali memijah dapat menghasilkan 300 – 400 anakan. Pemilihan Induk Jenis kelamin Manvis dapat dibedakan dengan melihat bentuk morfologisnya :

1. Induk Jantan
* Pada umur yang sama, ukuran lebih besar daripada induk betina
* Jika dilihat dari atas, perut terlihat ramping
* Kepala agak besar, bagian antara mulut dan punggung berbentuk garis cembung.
2. Induk Betina
* Ukuran relative lebih kecil dari induk jantan
* Perut agak membesar dan menonjol
* Kepala agak kecil dan bagian antara sirip punggung dan kepala membentuk garis lurus

Tempat Memijah :

Ada beberapa tempat yang dapat digunakan, antara lain kolam dan akuarium.

1. Kolam

  • Kolam dibuat dari tanah biasa atau dari semen, berukuran 1 m2 dengan kedalaman 80 cm
  • Kolam yang masih baru tidak boleh langsung digunakan, bau semennya harus dihilangkan terlebih dahulu dengan cara direndam dengan air selama beberapa hari.
  • Setelah bau semen hilang, kolam direndam lagi dengan air biasa selama 4 hari, selanjutnya dibersihkan lagi dan dikeringkan.
  • Pada saat akan dipakai kolam diisi dengan air tawar sampai kedalaman 30 – 60 cm
  • Bila kolam pemijahan terletak di tempat terbuka, perlu diberi tanaman air, misalnya enceng gondok.

2. Akuarium

  • Akuarium yang digunakan berukuran sedang yaitu panjang 100 cm, lebar 75 cm dan tinggi 50 cm dengan ketebalan kaca 5 – mm.
  • Sebelum digunakan Akuarium dibersihkan terlebih dahulu, kemudian diisi air tawar dengan ketinggian 30 – 40 cm.
  • Di dalam akuarium diberi pecahan genteng untuk memberi bau air yang alami
  • Pada wadah pemijahan dimasukkan pula potongan paralon atau benda lain yang permukaannya halus sebagai tempat menempelnya telur yang telah dibuahi
  • Selanjutnya induk yang telah siap pijah dimasukkan ke dalam akuarium secara berpasangan.
  • Air yang digunakan untuk pemijahan harus jernih dengan keasaman normal (pH 6,8 – 8,2) dan suhunya antara 24 – 26 0C. apabila menggunakan air yang berasal dari PAM atau sumur hendaknya diendapkan terlebih dahulu selama ± 24 jam.
  • Saat memijah Manvis memerlukan tempat yang gelap, oleh karena itu wadah pemijahan diberi tanaman air yang mengapung (enceng gondok) dan dindingnya ditutup dengan kertas warna gelap.

Manvis memijah pada malam hari ketika suasana tenang dan sepi. Telur yang telah dibuahi menempel pada tempat yang telah disediakan. Setelah memijah induk secara bergantian menjaga telurnya dengan mengibaskan ekornya untuk menambah oksigen.

Telur akan menetas 24 – 36 jam dari saat dibuahi pada suhu optimal, antara 27-31 0C. Burayak sudah tumbuh sirip pada saat umur 40 – 60 jam. Pada masa tersebut makanannya masih berupa egg yolk sac (kuning telur) dan belum memerlukan makanan tambahan.

Pada umur 3-4 hari, persediaan egg yolk sac sudah habis. Burayak mulai aktif berenang dan induk mulai melepaskannya. Pada saat ini merupakan saat yang rawan dalam usaha budidaya manvis. Biasanya burayak segera dipindahkan ke kolam pendederan yang ukurannya lebih besar dan diberikan pakan alami berupa rotifera.

Pembesaran manvis dilakukan dalam kolam yang berukuran 3 – 4 m2 dengan kedalaman air 30 cm. Padat tebar untuk setiap kolam 150 – 200 ekor atau disesuaikan dengan ukuran kolam yang ada. Untuk memberi suasan teduh dan tenang, kolam diberi peneduh berupa enceng gondok, anyaman bambu atau seng.

Pakan yang diberikan sesuai dengan bukaan mulut dan umur burayak manvis. Pada minggu pertama biasanya masih diberi pakan rotifera, setelah agak besar diberi kutu air yang disaring, kemudian diberi kutu air yang tidak disaring dan terakhir diberi pakan cacing sutera atau rambut. Setelah mencapai usia dewasa, manvis dapat diberi pakan buatan/ pelet secara bergantian dengan cacing sutera.

 

sumber:benihikan.net